Terima kasih sudah singgah dan memberikan kesan serta pesan, semoga bermanfaat untuk ibadah Haji dan Umroh kita.
.
Abu Hurairah berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Ada tiga orang yang menjadi tamu Allah: Pejuang, Orang yang pergi haji, dan Orang yang pergi umrah.'" (H.R. Muslim)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang haji ke Baitullah ini tidak melakukan dan mengatakan yang tidak senonoh serta tidak berbuat fasiq, ia akan kembali (bersih dari dosa) sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya". (HR. Bukhari dan Muslim)

.
.
Latest Post

Cari Info Haji dan Umroh

Loading...

Zamzam

Dalam sejarah dikisahkan, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajjar ibunya datang ke Makkah. Nabi Ibrahim hanya meninggalkan kurma dan air untuk keduanya. Kemudian dia kembali ke Palestina. Tatkala bekal itu habis, keduannya merasakan haus yang sangat. Maka, berangkatlah Siti Hajar ke Shafa dan berdiri di sana dengan harapan melihat seseorang di tempat itu.

Demikianlah dia berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa. Pada saat lari yang ke 7 dia mendengar suara orang yang memanggil-mangil, padahal di sekitar tempat itu tidak ada orang kecuali beliau dan Ismail yang masih bayi, lantas ia berseru, “Aku dengar suaramu tolonglah aku kalau engkau orang baik”. Munculah Malaikat Jibril kemudian menghentakkan tumitnya di tanah, lalu memancarlah air di tempat itu dan dengan tergesa-gesa Siti Hajar membendungi air dengan tanah dan pasir agar tidak mengalir ke mana-mana. Maka disebutlah air itu dengan nama Zamzam berarti air yang gemercik tapi terkumpul.

Air Zamzam di Masjidil Haram Mekah
Lokasi Air Zamzam di Sisi Pelataran Utama Tempat Tawaf

Air Zamzam sengaja dberikan oleh  Allah SWT. mula-mula kepada Ismail dan Ibunya Siti Hajar, kemudian oleh mereka berdua diberikan kepada siapa saja yang memerlukan. Ini terbukti setelah beberapa hari Siti Hajar dan anaknya tinggal di dekat air itu, datanglah kepadanya dua orang dari suku Jurhum yang mewakili bangsanya untuk berkenalan sekaligus meminta izin untuk memanfaatkan air, dengan senang hati menerima mereka dan akhirnya menjadi sekumpulan masyarakat baru di sekitar mata air Zamzam dan akhirnya menjadi sebuah kota yang amat ramai.

Air Zamzam yang banyak disediakan di area dalam Masjidil Haram Mekah
 
Diantara faedah air zamzam adalah:
a.  Syaba’ah, artinya kenyang, karena setelah minum air Zamzam menjadi kenyang.
b.  Murwiyah, artinya segar, karena air zamzam dapat mengilangkan rasa dahaga dan menjadi segar. 
c.  Nafi’ah, artinya bernafaat, karena sangat banyak manfaatnya: diantaranya menguatkan hati dan  
     menenangkan rasa takut.
d.  Afi’ah, artinya sehat, karena air Zamzam diminum dapat menagkal atau menolak penyakit.
e.  Maimunah, artinya barokah, karena keberkahan air zamzam sangat dirasakan.
f.  Barrah, artinya memiliki kebaikan, karena air zamzam sangat baik bagi orang yang meminumnya untuk 
    memperoleh keberkahan.
g.  Madhmunah, artinya bagus, karena indahnya air zamzam maka Allah melarang satu kaum dari bangsa 
     Arab tinggal di sekitarnya karena berbuat maksiat.
h.  Kafiyah, artinya mencukupi, karena orang meminum air zamzam merasa cukup atau puas.
i.   Mu’dzibah, artinya mencegah rasa dahaga karena air zamzam mengandung rasa antara manis dan tawar.
j.  Syifa Saqamin, artinya menyembuhkan penyakit, karena air zamzam dapat menjadi obat dan penyakit 
    yang diderita seseorang.
k. Hazamtu Jibril, artinya injakan atau tekanan turun Malaikat Jibril. Disebut demikian karena air zamzam 
    keluar dengan perantaraan tumit kaki Jibril.
l.  Maffurah, artinya ampunan, karena orang yang meminumnya diampuni dosanya.

Dalam hadits  dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda :”Air zamzam bagi yang diniatkan  ketika meminumnya,  jika engkau minum dengan maksud agar sembuh  dari penyakitmu  maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud agar engkau merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar  hilang rasa hausmu maka Allah akan  menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan  tumit  Jibril, minuman  dari Allah untuk Ismail. “(HR. Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas)

Keran Air Zamzam yang berlokasi di salah satu sisi dalam Masdilil Haram Mekah
 
Minum  air zamzam  sehabis  thawaf  mengingatkan  kepada  nikmat  Allah  yang  diberikan  kepada hamba-Nya  yang mengalami kesulitan, sekaligus mensyukuri nikmat Allah yang amat besar dibumi Makkah  yang  sangat tandus, tanpa tumbuh-tumbuhan itu, serta menanamkan  keyakinan  bahwa Allah  adalah Tuhan  yang  Maha Pemurah, Maha Kaya dan  Maha Mendengar do’a orang  yang berdo’a kepada-Nya.  Mensyukuri  nikmat Allah akan menambah banyak lagi  nikmat yang di berikan oleh Allah. 

Dalam Al-Qur’an diingatkan:“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berseru : Sungguh jika kamu  mensyukuri nikmat-Ku niscaya Aku akan menambahkannya, dan sungguh jika kamu mengingkari nikmat-Ku sungguh siksa-Ku amat berat.”(QS.Ibrahim :7)  
 
Air Zamzam yang disediakan di area dalam Masjid Nabawi Madinah

Dan dalam do’a nabi sulaiman AS, seperti dalam ayat Al-qur’an :  “Ya Tuhanku gerakkan hatiku untuk mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan (gerakkan hatiku untuk) melakukan amal saleh yang Engkau ridhai serta masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.  (QS. An-Naml – 19)

Salah satu tempat Air Zamzam yang disediakan di Mina

Hikmah Ibadah Haji
Depag RI

Kain Ihram dan Mukena Jamaah Diberikan Gratis

Kain Ihram dan Mukena Gratis
Jakarta (Sinhat) -- Kualitas pelayanan haji setiap tahunnya mengalami peningkatan luar biasa. Bukan hanya dari pengelolaan yang terus membaik, tetapi juga nilai komponen gratis bagi jamaah pun bertambah. Menteri Agama, Suryadharma Ali mengatakan komponen gratis perlengkapan jamaah bertambah banyak. Bukan hanya mendapatkan koper dan tas gratis, tetapi juga mukena dan kain ihram.
"Tahun ini komponen perlengkapan jamaah yang gratis bertambah mukena dan kain ihram," ujar Suryadharma Ali. Dia menyebutkan penambahan perlengkapan jamaah secara gratis itu merupakan hasil pengelolaan keuangan secara baik. Dengan tambahan perlengkapan gratis ini, sambung dia diharapkan jamaah menjadi lebih nyaman beribadah. Sekaligus menumbuhkan persaudaraan yang lebih baik antar jamaah haji.
"Mukena dan kain ihram gratis itu bertuliskan Jamaah Indonesia dengan huruf cukup mencolok, tapi elegan," imbuhnya. Tampilan tulisan tersebut, kata Suryadharma Ali membuat identitas jamaah haji asal Indonesia lebih kentara. Sangat menarik ditengah jamaah haji lain dari berbagai negara. (rko/ar/rm)

haji.kemenag

Aneka Oleh-Oleh Korma dan Kunjungan ke Kebun Korma










Photos by Yayan Suyanto, 2008

Oleh-Oleh Kurma dan Air Zam-Zam

Banyak barang atau makanan yang bisa menjadi oleh-oleh dari haji atau umroh, seperti: sajadah, phasmina, kerudung, baju gamis, peci, minyak wangi, perhiasan, kurma, air zam-zam dan juga beberapa jenis kacang. Bahkan tidak sedikit jamaah ada yang membeli mainan dan pakaian anak-anak.

Kemasan oleh-oleh haji termasuk botol kosong kecil untuk air am-zam di tanah air banyak dijual, jamaah tinggal membagi dan memasukkan oleh-olehnya kedalamnya.

Walau di beberapa pusat belanja di tanah air menjual beberapa jenis oleh-oleh haji/umroh, namun sebagian besar jamaah merasa lebih afdol jika membelinya langsung di Saudi.


oleh-oleh haji
Oleh-oleh haji/umroh yang dibeli langsung oleh jamaah di Saudi dan dimasukan dalam kemasan khusus
Lihat juga Aneka Oleh-Oleh Korma dan Kunjungan ke Kebun Korma



oleh-oleh haji
Oleh-oleh air zam-zam yang dibawa langsung bersama penerbangan jamaah kembali ke tanah air



Hikmah Sa'i


Kata sa’i artinya, usaha, yang bisa pula dikembangkan  artinya berusaha dalam hidup, baik pribadi, keluarga, maupun  masyarakat.
 
Pelaksanaan sa’i antara bukit Safa dan Marwah melestarikan pengalaman Siti Hajar (Ibu Ismail r.a) ketika mondar-mandir  antara dua bukit itu untuk mencari air minum bagi dirinya dan putranya, disaat beliau kehabisan air dan keringat pun  kering, di tempat yang sangat tandus, dan tiada seorang pun dapat di mintai pertolongan. Nabi Ibrahim a.s., suami Siti Hajar dan ayah Ismail tidak berada di tempat,  berada yang sangat jauh  di Syam. Kasih  sayang seorang ibu yang mendorong Siti Hajar  mondar-mandir hingga tujuh kali pulang balik antara bukit Safa dan Marwah itu. Jarak antara bukit Safa dan Marwah kurang lebih 400 meter. Sehingga Siti Hajar  menempuh jarak  hampir 3km. Dengan penuh tawakal kepada Allah, Siti Hajar mencari air yang diperlukan untuk menyambung  hidupnya itu. Akhirnya memperolah nikmat berupa mengalirnya mata air zamzam. Pada peristiwa ini digambarkan bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang harus menjadi teladan bagi kaum muslimin. Rasa syukur atas kasih sayang ibu yang dengan segala pengorbanan berusaha untuk membahagiakan anak  harus senantiasa hidup dalam hati setiap muslim.
 
Dan diantara hikmah yang perlu dicerna dalam pelaksanaan sa’i adalah memberikan makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah swt. Kesungguhan yang dilakukan oleh Siti Hajar dalam mencari air sebagai nyawa kehidupan membuat ia sampai tujuh kali mondar mandir antara bukit safa dan  marwah. Hal ini memberikan arti bahwa hari-hari kita yang berjumlah tujuh hari setiap minggunya harus diisi dengan penuh usaha dan kerja keras.pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sangat disenangi Allah, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.: “Allah sangat senang kepada seorang hamba yang bila bekerja ia melakukannya dengan sungguh-sungguh,”
 
Dengan menghayati dan meresapi syari’at sa’i akan muncullah di dalam diri kita sikap-sikap positif menghadapi berbagai tantangan yang terjadi, antara lain : kesungguhan, keikhlasan, sabar, tawakkal, disiplin, kebersamaan. Pekerjaan dan usaha, apalagi yang besar, haruslah dilakukan dengan penuh keuletan, tanpa mudah menyerah.
 
Hikmah berjalan cepat (setengah lari)
 
Ramal adalah jalan cepat. Allah mensyari’atkannya berjalan cepat secara masal, seperti luapan ombak ditengah lautan luas seperti gerombolan tentara yang banyak berkorban diantara dua gunung, maka hal semacam  ini menunjukkan kekuatan dan kebesaran  kaum muslimin serta keluhuran agama mereka,sekaligus menakut nakuti orang-orang musyrik dan kafir pada waktu itu. Dan barangkali pada zaman sekarang ,kalau berita itu disampaikan kepada umat-umat dan bangsa-bangsa lain akan meresaplah cahaya iman dan keagungan agama Islam yang lurus kedalam hati  orang-orang kafir,sehingga mereka akan memeluk agama Islam dengan senang hati,cinta,hormat dan memuliakannya.
 
Dikisahkan tatkala Rasullah saw dan sahabat memasuki kota Mekkah sesudah hijrah, maka orang-orang Quraisy berkumpul di Darun Nadwah melihat orang-orang Islam sambil mengejeknya dan menganggap lemah mereka, seraya mengatakan,”Demam Yatsrib (Madinah) sudah melemahkan mereka”. Ketika Rasulullah  memasuki masjid, maka beliau berbaring diatas kainnya, lalu berlari-lari kecil. Kemudian beliau bersabda : “Semoga Allah mengasihi seseorang yang memperlihatkan kekuatan dirinya kepada mereka” .

  
Hikmah Ibadah Haji, Departemen Agama RI

Sumber  Foto : navatourtravel

Rencana Perjalanan Haji 1435 H / 2014 H

Rencana Perjalanan Haji (RPH) atau jadwal Pemberangkatan dan Pemulangan Haji 1435 H / 2014 M

Rencana Perjalanan Haji 1435 H / 2014 H






Mabit di Muzdalifah


Jamaah haji setelah dari gelap menuju Muzdalifah untuk bermalam, beristirahat dan mengumpulkan kerikil batu untuk melempar jumrah di Mina pada pagi harinya.




* Dokumen Haji 2008
Lihat juga Video Mabit di Muzdalifah



Video: Mabit di Muzdalifah


Suasana Jamaah Haji saat mabit atau bermalam di Muzdalifah, beristirahat sebentar dan juga mengumpulkan kerikil batu untuk melempar jumrah di Mina.

video



*Dokumen Haji 2008

Hikmah Mabit di Muzdalifah dan Mina

HIKMAH MABIT DI MUZDALIFAH

Mabit atau Bermalam di Muzdalifah
Setelah tenggelam matahari pada hari Arafah, maka jamaah haji meninggalkan Arafah menuju keMuzdalifah untuk berhenti. Minimal  setelah lewat tengah malam baru dibolehkan bergerak menuju Mina. Selama mabit di Muzdalifah jamaah disunnahkan memungut kerikil (batu kecil) sedikitnya 7 butir untuk melontar Jumrah Aqabah esok paginya sesampainya di Mina. Mabit dan istirahat, di Muzdalifah itu bagai pasukan tentara yang sedang menyiapkan tenaga dan memungut kerikil itu bagaikan menyiapkan senjata dalam rangka berperang melawan musuh manusia, yaitu syetan yang terkutuk, karena itu melontar jumrah adalah  lambang  memerangi  syetan.
 
Yang demikian itu adalah hakikat perang, suatu tugas yang berat, karena musuh itu yakni syetan tak pernah mati dan tak akan habis sampai hari kiamat. Senjata apapun tak akan berguna untuk menghancurkannya kecuali do’a. Jadi melempar Jumrah itu  adalah lambang perang dengan syetan dan memerangi syetan bukan hanya pada melaksanakan ibadah haji saja tetapi sepanjang hidupnya, karena syetan itu tidak akan mati dan ada dimana-mana, di rumah , dipasar, di kantor, di ladang di jalan-jalan dan dimana saja. Tidak ada  tempat  yang  kosong  dari  syetan.
 
Melawan pasukan syetan  haruslah dengan kekuatan hati yang penuh dengan iman dan takakkal kepada Allah serta do’a. Rasulullah mengajarkan ketika melontar jumrah satu demi satu dengan takbir (Allahu Akbar) , dan disini pula kita tahu makna dan arti dari do’a  ta’awudz :
 “ Auzu billahi minasyaithoni rojim”  “ Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”
 
Dan  bacaan Bismillah pada saat akan memulai pekerjaan yang baik agar syetan tidak mengganggu apa yang kita lakukan.
 
MABIT  DI MINA


Mabit atau Bermalam di Mina
Mina adalah lokasi ditanah haram di Makkah, secara harfiah Mina berarti tempat tumpah darah binatang yang di sembelih. Ini sesuai dengan kenyataan  yang berlaku bahwa di daerah ini setiap tahun disembelih sekitar satu juta binatang yang  terdiri dari unta, sapi, dan  kambing.
 
Jamaah haji melaksanakan mabit di Mina sebagai kelanjutan dari suatu pelaksanaan ibadah sebelumnya, dan dilaksanakan pada tanggal 10,11,dan 12 Dzulhijjah (bagi jamaah yang Nafar Awal), dan tanggal 10,11,12, dan 13 bagi yang  Nafar  Tsani.
Selama mabit di Mina, jamaah  haji harus mampu menangkap makna hikmah, dengan banyak  dzikir, berdo’a dan  menghayati perjalanan  Rasulullah saw dan para Nabi sebelumnya. Di Mina terdapat masjid Khaif yaitu masjid searah dan dekat Jumratul Ula. Dimasjid ini dahulu sejumlah 75 Nabi melaksanakan shalat, demikian pula Nabi Muhammad saw. Bahkan menurut suatu riwayat Nabi Adam a.s, dikubur di Mina.
 
Dalam Al-Qur’an dijelaskan dengan firman-Nya: “Dan berzikirlah kamu kepada Allah pada hari-hari yang terbilang.”(Al Baqarah :203).
 
Rasulullah bersabda :”Hari-hari (tinggal) di Mina adalah tiga hari.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
 
Maka ada dua pekerjaan yang perlu dilakukan oleh jamaah haji selama di Mina, Yaitu:
Pertama, Melontar  Jamarat, yang pada hari Nahar melontar jumratul Aqabah dan pada hari Ayyamut      tasyriq   melontar  Jumratul Ula, Jumratul Wustho, dan Jumratul Aqabah.
 
Kedua, Mabit ,Yakni tinggal dan menginap di Mina selama malam hari Ayyamut tasyriq
 
Aisyah  r. a, istri beliau mengemukakan :” Rasulullah saw melakukan  ifadhah (thawaf di Mekkah), kemudian kembali ke Mina, lalu tinggal di Mina selama tiga hari-hari tasyriq.”( Muttafaq ‘Alaih)
 
Diantara keistimewaan Mina antara lain :
 
Kawasan ini pada hari biasanya tanpak sempit dan selalu menjadi luas secara otomatis sehingga dapat  menampung seluruh jamaah, hal ini sesuai dengan ucapan Rasulullah,” Sesungguhnya Mina ini seperti rahim, ketika terjadi kehamilan”, daerah ini di luaskan oleh Allah swt. Maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak dapat tempat di Mina.
 
Batu kerikil yang di lontarkan ke jumrah oleh jamaah haji yang hajinya di terima oleh Allah diangkat oleh Malaikat ke langit. Dan batu yang di lontar oleh  mereka yang hajinya tidak di terima, dibiarkan menetap  di jumrah yang pada  akhirnya di bersihkan. Hal ini sesuai dengan ucapan  Abdullah ibnu Umar salah seorang sahabat Nabi yang alim, “Demi Allah, sesungguhnya Allah mengangkat kelangit batu yang di lontarkan ke jumrah oleh mereka yang hajinya di terima oleh Allah”. Dalam kitab Syifa al-Gharom diterangkan bahwa Syeikh Abu Nu’man al-Tabrizi (Mufti Masjidil Haram) pada zamannya pernah melihat sendiri menyaksikan  betapa batu-batu itu beterbangan naik keatas kea rah langit

 Hikmah Ibadah Haji, Departemen Agama RI


Live TV Streaming

MATA UANG RIYAL

IMIGRASI

WAKTU SAAT INI

WAKTU SHOLAT

.

.

.

.
 
Created by : Fans Page Naik Haji dan Pergi Umroh
Copyright © 2012. Naik Haji dan Pergi Umroh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger